Terapkan Taktik Menyerang, Peneliti Lipi: Alasannya Yakni 'Jokowi Effect' Sudah Luntur


PORTAL-BERSAMA.WEB.ID - Capres petahana Jokowi belakangan kerap melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap rivalnya, Prabowo Subianto. Dalam serangannya, Jokowi menyinggung sejumlah informasi mulai prediksi Indonesia bubar sampai Indonesia yang dikhawatirkan menyerupai Haiti.

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, memaparkan analisisnya mengenai pilihan taktik menyerang Jokowi tersebut. 

Siti menyebut, Jokowi memang menentukan taktik menyerang kubu lawan, setidaknya hal itu sudah dimulai dari debat Capres perdana 17 Januari lalu.

"Iya, kayanya Pak Jokowi konsisten untuk menyerang, dari perdebatan pertama ia menyampaikan dengan lantangnya bahwa ia tidak punya duduk masalah masa lalu, melanggar HAM, dan hal-hal menyerupai itu. Lalu soal ketua umum tandatangan caleg-caleg yang bermasalah lantaran pernah napi dan sebagainya," kata Siti, Sabtu (2/2/2019).

Siti mengatakan, serangan Jokowi itu dapat jadi disebabkan oleh posisi ia yang berbeda drastis dengan Pilpres 2014. Jokowi, disebut Siti, memiliki imbas yang begitu berpengaruh ketika Pilpres 2014.

"Kalau berdasarkan aku (sekarang) beda sekali, Jokowi 2019 dibandingkan dengan Jokowi di 2014. Jokowi 2014 itu bukanlah petahana tapi posisi dan pengelu-eluannya itu luar biasa. Kaprikornus semua istilahnya itu berpihak pada Jokowi. Media darling ya, pokoknya diperlukan hampir semua elemen bangsa sehingga kita gres menyaksikan menyerupai apa peresmian seorang presiden di 2014 itu, Oktober jikalau dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, kayanya nggak pernah menyerupai itu," ujarnya.

Namun, berdasarkan Siti, Jokowi effect itu luntur menjelang Pilpres 2019. Siti menyatakan justru imbas tersebut malah beralih ke kubu lawan, yaitu cawapres Sandiaga Uno.

"Di Pemilu 2019 ini kita tidak mendengar Jokowi effect itu, 2014 Jokowi effect sehingga jikalau tidak salah Indo Barometer waktu itu menyegerakan ketika ada launching dari hasil surveinya, kebetulan aku yang membahas juga waktu itu. Itu November 2013, ia bahkan mendorong PDIP cepat-cepat, sesegera mungkin deklarasi Jokowi lantaran apa? Jokowi effect, padahal pemilunya nggak serentak," ulas Siti dikutip dari detikcom.

"Ini yang tidak muncul 2019 ini, malah yang muncul Sandiaga Uno effect, jadi gendang itu malah ditabuh oleh Sandiaga, dengan titik-titik yang ribuan menyampaikan sudah ke sana. Ya mungkin titiknya tingkat RT RW, kecamatan, ke tempat memang seribu," sambung dia.

Terlepas dari itu, Siti menyampaikan kontestasi Pilpres 2019 ini masih jauh dari perdebatan kegiatan dan gagasan. Bagi dia, ketika ini para kandidat gres bicara soal kelemahan dari kubu masing-masing.

"Jadi ini sudah memasuki kontestasi cuman kan masih bukan di program. Ini toh programku, mana programmu, gres hal-hal yang sifatnya dianggap lawan tanding yang negatifnya apa, itu yang diracing, yang dikuliti, jadi masih di situ, bukan untuk di level nasional, kepemimpinan nasional itu memang ada semacam tanggung jawab moral lebih ke level seyogianya bagaimana seorang pemimpin nasional memberikan gagasan brilian-briliannya apalagi petahana untuk next periode-nya," tandasnya. [ts]

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Terapkan Taktik Menyerang, Peneliti Lipi: Alasannya Yakni 'Jokowi Effect' Sudah Luntur