Stop Pasal Karet Uu Ite!!!


Sejak delik memaki; ujaran kebencian, dll di-giatkan masuk ruang sidang dan dipidanakan, kita terjebak pada debat omong kosong. Seolah kita bangsa yang gak punya sejarah dan kebudayaan. Apa sih yang diributkan? Omong kotor dan memaki itu nyata.

Memaki itu ada semenjak insan ada di dunia, alasannya dalam keaktifan insan terjadi persentuhan, secara fisik, nalar hingga perasaan. Lalu lahir tensi. Lahir nyala api dan percikan yang tersembur dari lisan yg murka atau kecewa. Kadang ia menjadi katarsis.

Kalau tidak mengumpat atau memaki, mungkin orang sanggup membunuh atau menyerang fisik. Biarkan orang murka asalkan jangan menyerang fisik. Bacalah TL aku pada beberapa goresan pena kontroversi. Termasuk yang tidak suka dengan memaki juga memaki.

Kadang, memaki yaitu cara menenangkan diri. Setelah memaki orang biasa menjadi puas dan damai sesudah melepas energi negatifnya ke angkasa. Maka, melarang orang memaki sama dengan melarang orang bersin. Bersin itu manusiawi sebagai respon atas lingkungan.

Di Indonesia, memaki lebih seru dan beragam. Setiap budaya dan suku bangsa ada cara memaki. Mulai dari yang paling bergairah atau terasa bergairah ditelinga orang hingga yang terdengar lucu. Semua ada dalam tradisi kita. Dalam diri kita mau diterima atau tidak.

Di media umum ada sayembara memaki. Anak-anak muda itu ingin menerangkan bawa memaki yaitu bab dari kebiasaan kita di INDONESIA. “Daripada meng-Import produk asing; fu*k atau sh*t mendingan pakai yang ada di dalam negeri”, ejek mereka pada kemunafikan kita.

Ada puluhan umpatan menyerupai “Janc..k!”, “Matamu!”, “Lon.. tenan”, “Congore”, “Ndase”, dan “Jamput” dan banyak lagi yang tiba dari banyak sekali kawasan menyadarkan kita bahwa memang memaki itu menyerupai bersin.

Jadi, dikala @AHMADDHANIPRAST menyampaikan “layak diludahi” sehabis mendengar ada pendukung tersangka penista agama atau memaki “idiot” kepada kelompok yang tiba menyerbu hotelnya dan menghalanginya ikut sebuah acara, apa salah nya?

Tapi, yang lebih jelek dari #PengadilanKata2 ini yaitu alasannya ia diskriminatif. Pasal yang sama menebas leher si A tapi mengelus-elus si B yang rupanya mempunyai kedekatan dengan penguasa. Pertengkaran ini menjadi tak seimbang alasannya wasit turun gelanggang.

Lalu Bangsa disibukkan dengan apa yang disebut #UjaranKebencian padahal kata dasarnya #HateSpeech alias #PidatoKebencian (pidato di hadapan massa -red), kemudian apa yang tertulis dan terucap dalam lembaga tertutup atau halaman eksklusif pun jadi pidana. Memaki, mengumpat, mengomel jadi pidana.

Padalah ini yaitu kontrol sosial, dikala melalui media sosial, untuk pertama kalinya orang sanggup mengungkapkan kemarahan pada yg menyalahgunakan kekuasaan negara secara semena-mena atau mengabaikan keadilan, melaksanakan persekusi dan tindakan di luar batas.

Maka, dari pada kita melarang orang bersin, lebih baik mengajarkan reaksi yang benar. Di barat orang menggunakan kata “sorry” atau “excuse me” kemudian yg mendengar menyampaikan “bless you” atau “god bless you”.  itu budaya dan tradisi kehidupan.

Orang Islam bersin berucap “alhamdulilah” yg mendengar “Yarhamukallah”.  Hampir sama artinya. Ini budpekerti dan tradisi kita. Sama dengan mengajarkan reaksi atas kekecewaan dan sakit hati, jangan memaki tapi ucapkan kali amat yg baik...semua soal budpekerti tapi jangan dipidana.

Karena jikalau konsisten menghukum orang memaki dan mengumpat, kemudian semua didorong saling lapor, apa gak habis netizen masuk bui 1,5 tahun? Ayolah tumbuh kan nalar sehat kita. Masak gini aja kita gak paham. Sekian. #StopPasalKaretITE 

(Twitter @Fahrihamzah 07-02-2019)


Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Stop Pasal Karet Uu Ite!!!
Next
This Is The Current Newest Page