Revolusi Mental Yang Menjungkirbalikan Akal


[PORTAL-BERSAMA.WEB.ID]  Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin pernyataan, kalau tidak mau dukung Jokowi jangan pakai jalan tol. Dari Jakarta, Menteri Komunikasi dan informasi Rudiantara bertanya kepada pegawai Kemenkominfo yang menentukan nomor 02, "yang honor ibu siapa?"

Ucapan superngawur kedua menteri itu disampaikan pada kesempatan terpisah. Hendrar menyampaikan saat  menghadiri silaturahmi Jokowi dengan paguyuban pengusaha Jawa Tengah di Semarang, Sabtu (2/2). Akal sehat publik pribadi membaca pernyataannya itu  sebagai upayanya carmuk alias cari muka kepada sang atasan. Sedangkan Rudi, melontarkan pertanyaan superkonyol ketika kementerian yang dipimpinnya menentukan desain untuk kampanye Pemilu Damai di lingkungan Kemenkominfo.

Bedanya, kita masih sanggup dengan simpel menelusuri jejak digital pernyataan Hendrar soal jalan tol dan Jokowi yang gres saja menerima gelar Cak Jancuk dari pendukungnya di Jawa Timur. Sebaliknya, informasi perihal pertanyaan Rudiantara perihal siapa yang menggaji pegawainya yang menentukan nomor 02, telah lenyap dari dunia maya.

Rupanya sudah ada gerakan sapu higienis jejak digital dalam kasus ini. Maklum, sebagai Menteri Informasi dan Komunikasi, Rudi memang mirip penguasa jagad digital. Jadi, kendati anda mengubek-ubek dari atas  ke bawah, dari kanan ke kiri, utara-selatan, barat-timur, tetap saja jejak tersebut lenyap tanpa bekas. Ungkapan khas, ‘kejamnya jejak digital’ tak berlaku buat Rudi. Hehehe….

Sadis!

Kembali ke laptop. Sejatinya, upaya menjungkirbalikkan penalaran rakyat bukan hanya dilakukan keduanya. Di masa Jokowi ini, sungguh banyak ucapan para pembantunya, bahkan di level menteri, yang mengabaikan logika dan logika sehat. Kita tentu masih ingat ada menteri yang menyuruh rakyat  tanam cabe sendiri ketika harganya mahal. Lalu, ada juga menteri yang meminta rakyat mengurangi makan alias diet ketika harga beras mahal. Ada lagi perintah makan bekicot waktu harga daging mahal. Saat ikan sarden dalam kaleng ada ‘bonus’ cacing, sang menteri menyampaikan itu protein. Silakan dikonsumi, tidak apa-apa.

Para menteri dan pejabat Cak  Jancuk mirip tidak berhenti menyuguhkan rentetan banyolan konyol. Entah apa yang ada di benak mereka, sehingga orang-orang yang seharusnya berkelas mirip mereka sanggup memproduksi pernyataan-pernyataan memprihatinkan model itu.

Dalam banyak hal, pernyataan mereka bukan hanya menabrak budi sehat, tapi juga menyayat hati. Saat rakyat membutuhkan solusi dari para pejabat alasannya tergencet aneka macam harga yang melambung, orang-orang itu justru melontarkan ucapan yang nyelekit. Seharusnya pemerintah berupaya amat keras untuk menurunkan harga daging, cabai, beras, dan aneka macam komoditas pangan lain. Bukannya justru menyuruh rakyat makan bekicot, menanam cabe sendiri, apalagi mengurangi makan. Sama sekalit tidak ada empati. Benar-benar sadis!

Pertanyaannya, mengapa semua kekonyolan itu sanggup terjadi di masa Jokowi. Inikah buah dari revolusi mental yang dibangga-banggakan Cak Jancuk? ‘Binatang’ apakah revolusi mental itu?

Karl Marx

Istilah revolusi mental pertama kali dipopulerkan oleh bapak sosialis-komunis dunia, Karl Marx. Pemikiran Marx sangat banyak dipengaruhi filosofis atheis Young Hegelian yang sangat terkenal di Berlin.

Marx muda waktu itu aktif di perkumpulan Pemuda Hegelian, sebuah kelompok ekstrim kiri anti agama yang beranggotakan para dosen muda dan cowok ekstrim kiri. Istilah revolusi mental khusus dibentuk untuk agenda basuh otak dalam pengembangan faham Sosialis-Komunis di daerah Eropa. Mereka yakin agama yang dogmatis ialah penghambat pengembangan faham komunis .

P endiri Partai Komunis China, Chen Duxiu bersama temannya Li Dazhao juga tercatat gencar memopulerkana istilah revolusi mental. Keduanya menyusun doktrin revolusi mental untuk mencuci otak para buruh dan petani dalam menentang kekaisaran China. Sekadar tahu saja, para petinggi Partai Pekerja Kurdi/Partiya Karkeren Kurdistan (PKK) pun memakai istilah ini.

Di Indonesia, ialah tokoh sentral Partai Komunis Indonesia (PKI)  DN Aidit yang menggunakannya. Awalnya, ia berjulukan Ahmad Aidit, anak dari Abdullah Aidit. Lalu ia mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit alias DN Aidit. Alasan dihilangkannya Ahmad dari nama depannya, dan menggantinya dengan Dipa Nusantara (DN), ya revolusi mental itu tadi, yaitu menghapus (nama) berbau agama.

Lalu, pada debat Capres 2014, Jokowi juga memperkenalkan revolusi mental sebagai pendekar dari programnya bila terpilih menjadi Presiden. Apakah Jokowi terinspirasi pedoman Sosialis-Komunis soal 'revolusi mental' itu? Hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Lagi pula, mencoba sok tahu kaitan revolusi mental-nya Jokowi dan sosialis-komunis di zaman now, sungguh-sungguh cari penyakit. Salah-salah sanggup dicokok pegawapemerintah dengan dalih melanggar UU ITE dan melaksanakan ujaran kebencian. Hiyyy… ngeri!

Tapi, sulit dibantah ada pesan yang sama antara revolusi mental versi Marx serta gerombolan pengikutnya hingga Aidit, dan versi Jokowi. Mereka sama-sama berupaya memisahkan agama dan politik.

Pada versi yang Marx cs, agama ialah candu yang harus disingkirkan dari masyarakat. “Revolusi mental tak akan berhasil kalau masyarakat tidak dijauhkan dengan agama,” ujar Aidit. Sementara Jokowi menyatakan, “Jangan hingga dicampuradukkan antara politik dan agama. Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik.” Pernyataan itu disampaikannya ketika Cak Jancuk berada di Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017).

Adakah benang merah antara revolusi mental ala Marx-Aidit dan eks tukang mebel itu? Wallahu a’lam. Satu hal yang pasti, Cak Jancuk amat serius dengan agenda dan gagasannya ini. Buktinya, tiap tahun pemerintahannya mengalokasikan anggaran yang tidak mengecewakan gede untuk ini. Pada APBN-Perubahan 2015 saja, Rp149 miliar.

Alokasi terbesar anggaran dipakai untuk belanja iklan, terutama di televisi. Berdasarkan data Adstensity, untuk satu bulan November 2015, kementerian menggelontorkan Rp87,3 miliar untuk iklan di televisi. Metro TV jadi akseptor order iklan terbesar, Rp14,9 miliar.

Sebulan kemudian, Kementerian PMK kembali menggerojok duit iklan Rp92 miliar. Lagi=lagi Metro TV sanggup jatah terbesar, Rp13,7 miliar. Kok bisa? Apakah alasannya Metro TV milik Surya Paloh, pendiri NasDem yang jadi kawan partai koalisi pemerintahan Cak Jancuk?

Juara Korupsi

Bicara revolusi mental kolam bicara soal bayang-bayang yang tidak terperinci wujudnya. Absurditas tadi kian kentara ketika kita dihadapkan pada kenyataan, banyaknya pejabat publik yang tersandung masalah korupsi. Mereka tersebar di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Komplet.

Khusus di kalangan eksekutif, sudah terlampau banyak mereka yang terciduk. Petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan hingga berujar, kalau mau institusinya sanggup setiap hari melaksanakan operasi tangkap tangan (OTT). Dan, uniknya, juara korupsi di kalangan kepala daerah dimenangi kader dari PDIP. Kita tahu persis, partai berlogo banteng moncong putih ini ialah pengusung utama Jokowi sebagai Presiden.

Ternyata, jargon revolusi mental yang gegap-gempita tak lebih dari agenda penghamburan duit rakyat. Jangankan merevolusi mental 260 juta penduduk Indonesia semoga lebih baik, merapikan mental para menteri dan kader partai pendukung utamanya saja Cak Jancuk kedodoran.

Contoh teranyar betapa compang-campingnya mental pendukung Jokowi dipertontokan oleh Muhammad Romahurmuzy (Romi), ketum PPP. Tindakannya yang meminta Kyai Maimun Zubeir meralat doannya yang menyebut Prabowo semoga menjadi Presiden, dianggap banyak pihak telah cross the red line. Apalagi ketika Romi memviralkan video adegan ia dan Cak Jancuk masuk ke kamar pribadi mbah Maimun, kalangan santri menyebutnya sebagai su'ul adab. Adab yang buruk. Inikah teladan dari kepingan 'sukses' revolusi mental?

Dari rentetan fakta tadi, terperinci Jokowi telah gagal memimpin Indonesia. Masih ngebet lanjut dua periode? Monggo saja. Tapi, rakyat yang kian cerdas tentu emoh babak-belur dua kali. Benar kata Rocky Gerung, 17 Agustus ialah hari kemerdekaan nasional. Sedangkan 17 April ialah hari kemerdekaan budi sehat. Selamat tiba budi sehat.

Penulis: Edy Mulyadi
Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Revolusi Mental Yang Menjungkirbalikan Akal