Propaganda Rusia, Taktik Blunder


Oleh : Hersubeno Arief

Hanya perlu waktu selang sehari, bola panas yang dilontarkan Presiden Jokowi soal Propaganda Rusia dan konsultan aneh berbalik menyerangnya. Isu ini jikalau tidak cepat dan sempurna ditangani oleh tim Jokowi, sanggup menghancurkan narasi besar yang sedang mereka coba bangun, sekaligus membongkar taktik mereka.

Ketika bertemu dengan sejumlah pendukungnya di Solo, Ahad (3/2/2019) Jokowi melancarkan tuduhan Prabowo-Sandi memakai konsultan asing. Mereka menerapkan taktik “Propaganda Rusia.”

“Seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia menyerupai itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoax sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya menyerupai itu,” kata Jokowi.

Jokowi juga menyebut Prabowo-Sandi memakai konsultan asing. “Terus yang antek aneh siapa? Jangan hingga kita disuguhi kebohongan yang terus-menerus. Rakyat kita sudah pintar, baik yang di kota atau di desa,” tambahnya.

Tuduhan ini bahwasanya juga sempat dilontarkan Jokowi ketika berkunjung ke kantor Harian Jawa Pos di Surabaya sehari sebelumnya.

Tak perlu menunggu terlalu lama, Kedubes Rusia di Jakarta eksklusif bereaksi. “Istilah ini sama sekali tidak menurut pada realitas,” demikian pernyataan Kedubes Rusia untuk Indonesia melalui akun Twitter resmi mereka, Senin (4/2/2019).

Kedubes Rusia menjelaskan bahwa istilah yang sekarang dipakai “oleh kekuatan-kekuatan politik tertentu di Indonesia” itu direkayasa oleh Amerika Serikat ketika pemilihan umum pada 2016 lalu.

Walau tidak menyebut nama seseorang, namun bantahan Kedubes itu terang ditujukan kepada Jokowi. Dikemas dalam bahasa yang halus, bahasa diplomatis itu harus dipahami sebagai reaksi yang sangat keras. Tuduhan yang dilakukan oleh presiden sanggup membahayakan kekerabatan diplomatik kedua negara.

Menyadari hal itu Jokowi kemudian menjelaskan bahwa istilah “Propaganda Rusia” itu beliau dapatkan dari sebuah artikel di jurnal RAND Corporation. Lembaga kajian global yang berbasis di Santa Monica, California itu dalam salah satu jurnalnya pernah menurunkan artikel “The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model Why It Might Work and Options to Counter It.” Referensinya cukup keren juga.

Bersamaan tuduhan Jokowi,  para buzzer Jokowi rame-rame memposting dan menjelaskan apa itu Firehose of Falsehood (FoF). Istilah yang cukup berat ini mereka jelaskan dalam sebuah grafis yang gampang dipahami. Mereka menyebut FoF sanggup memecah belah bangsa.

Isu rasisme, agama, ultra nasionalisme terus dihembuskan dan dibakar. Ujung-ujungnya Indonesia sanggup terpecah belah menyerupai Iraq dan Suriah. Sebuah wacana yang juga tak kalah menakutkan.

Kalau melihat pernyataan Jokowi dan kampanye yang massif di medsos, tuduhan ini sepertinya merupakan kampanye terencana. Kubu paslon 01 justru tengah melaksanakan propaganda name calling. Sebuah taktik propaganda memberi nama buruk. Tujuannya semoga publik menolak apapun yang disampaikan Prabowo-Sandi, tanpa lebih dahulu mengecek faktanya.

Dalam bahasa Jawa kosakata yang mendekati ialah waton suloyo. Seenaknya sendiri. Yang penting beda.  Kalau perlu bertengkar, ya dijabani.

Para jubir dan petinggi parpol pendukung paslon 01 secara massif selalu memberi label hoax kepada paslon 02. PSI contohnya pernah memberi “Kebohongan Award” kepada Prabowo-Sandi.

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli sudah menengarai operasi ini. Menurutnya kubu paslon 01 punya Standard Operating Procedure (SOP) dalam empat tahap :

Pertama, modal utamanya ialah ngotot. Meskipun tidak punya dan tidak didukung dengan data, harus tetap ngotot. Apapun risikonya.

Kedua, harus dimintakan apa saja data-data, dan fakta di lapangan dari mereka yang tidak mendukung Jokowi tersebut

Ketiga, kalo dijawab dengan diberikan data-data dan fakta yang merugikan Jokowi, maka data tersebut harus dibilang hoax. Jangan keluarkan kata apapun dalam menghadapi data-data dan fakta lapangan, kecuali cepat-cepat bilang HOAX

Keempat, kalo ngotot tidak kuat. Minta data-data dan fakta lapangan juga tidak kuat. Setelah itu dibilang HOAX juga tidak kuat, maka langkah selanjutnya ialah laporkan saja ke polisi.

Tuduhan Jokowi soal Propaganda Rusia sepertinya dimaksudkan untuk memberi pukulan pamungkas. Sayangnya kosa kata Rusia menjadi sangat sensitif ketika disampaikan oleh seorang kandidat yang juga presiden inkumben.

Di kalangan para pendukung Prabowo-Sandi tudingan Jokowi malah ditanggapi secara bercanda. Koordinator Jubir Dahnil Anhar Simanjuntak menyampaikan mereka memakai taktik Bojong Koneng, bukan Rusia.  Di Medsos kata-kata Propaganda Rusia juga dipelesetkan menjadi Propaganda Raisa. Nama terakhir mengacu pada penyanyi perempuan terkenal yang sangat banyak penggemarnya.

Tudingan Antek Asing

 Serangan balik terhadap Jokowi tidak hanya berhenti pada soal Propaganda Rusia. Juru bicara BPN Andre Rosiade menuntut penjelasan Jokowi benarkah justru beliau memakai konsultan asing.

Andre mendasari seruan penjelasan alasannya ialah adanya info Jokowi pernah memakai jasa konsultan politik top asal AS Stanley Greenberg. Dalam web www.Political-Strategist.com nama Jokowi masuk dalam daftar klien Greenberg dari banyak sekali penjuru dunia.

Nama Jokowi juga tercantum di situs Wikipedia sebagai klien Greenberg. Menariknya dalam data perihal Greenberg di laman Wikipedia, nama Jokowi dikala ini sudah menghilang . Nama Jokowi tercantum semenjak 17 Jan 2017. Namun terhitung tanggal 24 Nov 2018, nama Jokowi hilang.

Ketika ditelusuri jejak digital  yang mengubah data di Wiki ialah pengguna tanpa nama ( anonymus user ). Lokasi pengguna tertera pada 6°10’27.8″S 106°49’45.8”E, atau berada di perkantoran sekitaran Monas. Makara sanggup dipastikan yang mengubah ialah seseorang yang berada di Jakarta. Mereka tidak ingin ada nama Jokowi disitu.

Tak terang mengapa nama Jokowi harus “dihilangkan.” Penggunaan konsultan asing, bahwasanya biasa saja. Seharusnya tidak perlu disembunyikan jikalau tidak ada apa-apanya. Tidak juga harus dikait-kaitkan dengan label antek asing.

Isu Jokowi memakai jasa Greenberg bahwasanya sudah berembus lama. Pada Pilpres 2014 akun @Triomacan yang diketahui di kelola Raden Nuh Dkk sudah menyebutnya.

@Triomacan menyebut yang mendatangkan Greenberg ialah konglomerat James Riady.  Greenberg dikenal sebagai konsultan top Partai Demokrat. Beberapa orang presiden asal Partai Demokrat menyerupai Clinton dan Obama ialah klien yang dibantunya hingga sukses.

Bersama Clinton, Greenberg disebut sebagai  “Arkansas Connection” mengacu pada kota asal Clinton. Keluarga Riady dikenal sangat erat dengan Clinton semenjak beliau menjadi jaksa agung dan kemudian gubernur negara bab Arkansas.

Tidak ada bantahan resmi, baik dari Jokowi maupun James Riady. Hanya sempat muncul bantahan dari Prodjo, pendukung Jokowi.

Kini seiiring tuduhan Jokowi bahwa Prabowo-Sandi memakai konsultan asing  dan Propganda Rusia, muncul seruan klarifikasi  dari anggota BPN Andre Rosiade.  Benarkah justru Jokowi yang memakai konsultan asing?

Jokowi berkewajiban melaksanakan pembuktian terbalik. Bila Jokowi tidak sanggup menandakan sebaliknya,  sulit untuk dihindari tudingan bahwa Jokowi menerapkan taktik name calling, “maling teriak maling.”

Sumber: https://www.hersubenoarief.com/artikel/propaganda-rusia-maling-kok-teriak-maling/


Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Propaganda Rusia, Taktik Blunder