Pengamat: Gaya Menyerang Joko Widodo Akhir Panik Soal Elektabilitas


PORTAL-BERSAMA.WEB.ID - Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai gaya menyerang calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi belakangan ini, dinilai sebagai bentuk kepanikan sebab elektabilitas belum aman.

"Sebagai petahana, elektabilitas Jokowi minimal 60 persen supaya aman. Sementara Jokowi masih 53 persen. Karena itu, Jokowi memakai seni administrasi total football ala Barcelona," ujar Adi Prayitno kepada Tempo pada Ahad malam, 3 Februari 2019.

Menurut Prayitno, sebaik-baiknya seni administrasi bertahan yaitu menyerang untuk mengunci kemenangan. Kendati demikian, ujar dia, sebagai petahana, Jokowi mestinya fokus menjual kesuksesan kinerjanya selama 5 tahun.

Jokowi juga dapat mengkapitalisasi semua yang sedang dan telah dilakukan, seperti; pembangunan infrastruktur, dana desa, PKH, kartu Indonesia pintar, kartu indonesia sehat, dan seterusnya. "Bukan malah sibuk menyerang. Gaya frontal ini bukan khas Jokowi yang biasanya kalem dan datar," ujar dia.

Prayitno menilai, seni administrasi menyerang ini sengaja didesain untuk mengerek elektabilitas Jokowi yang relatif stagnan. Namun, gaya ini dinilai merugikan, sebab Jokowi tidak alamiah ibarat biasanya, yakni yang jualan kerja dan hambar dengan gosip-gosip luaran. "Sebab, yang disukai dari Jokowi itu sebab ia alamiah, apa adanya, dan tak suka menyerang."

Gaya menyerang Jokowi diperlihatkan sekurangnya dalam kampanye di Surabaya dan Semerang belum usang ini. Serangan itu ia tujukan kepada kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Masak saya membisu terus? Saya suruh membisu terus? Saya suruh sabar terus? Ya tidak dong," kata Jokowi dikala ditanya wartawan di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Ahad, 3 Februari 2019.

Tetapi Jokowi menyangkal telah melaksanakan serangan ke kubu lawan. Dia menyatakan hanya memberikan kenyataan. "Sekali-sekali dong."

Saat melaksanakan kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, Jokowi menanggapi beberapa pernyataan kontroversial yang diucapkan Prabowo, mulai dari prediksi Indonesia bubar, Indonesia dikhawatirkan ibarat Haiti, hingga hoax Ratna Sarumpaet.

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf mengklaim elektabilitas Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto masih terpaut 20,4 persen. Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto mengklaim, posisi mereka sudah cukup kondusif untuk dikala ini. "Di sosial media, posisi kami bahkan mencapai 59,9 persen," ujar Hasto Kristiyanto dikala ditemui di bilangan Menteng, Jakarta pada Selasa, 29 Januari 2019.

Survei TKN ini berbeda cukup jauh dengan survei internal Badan Pemenangan Prabowo-Sandi. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, yang juga adik kandung Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, mengklaim hasil survei internal BPN menemukan selisih elektabilitas antara Prabowo - Sandiaga tak lebih dari 11 persen dengan Jokowi - Ma'ruf. "Ada yang 5 hingga 7 persen, ada yang 6 hingga 10 persen, dan ada yang katakan 7 hingga 11 persen." [tco]

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Pengamat: Gaya Menyerang Joko Widodo Akhir Panik Soal Elektabilitas