Orde Demokrasi Vs Tangan Besi


Oleh: Rafael Wildan*

Kini kamu tak aib lagi
Topengmu kian terbuka
Menampakkan wajah sebenarnya
Disaksikan ratusan juta mata
Kau ialah penguasa durjana
Menindas segala cara

Kau tak segan, tak segan lagi,
Memberangus diskusi
Memperbanyak persekusi
Membegal demokrasi

Kau tak segan, tak segan lagi
Memaki sambil main hakim sendiri
Memperalat pegawanegeri keparat
Merusah hak berpendapat
Menginjak hukum
Menghajar daulat rakyat

Kau tebar intimidasi dimana-mana
Adu domba anak bangsa
Kau sang tirani
Keadilan kini kian mati
Kau tangan besi

Tapi jangan pernah kamu mimpi
Harga diri tak sanggup dibeli
Suara kebenaran tak mungkin dibungkam
Ketakutan menumpuk sekam
Terpercik bara menjadi, menjadi api perlawanan
Tak kan padam hingga kamu tumbang
Dihantam angin kencang gelombang
Diiringi takbir, takbir berkumandang

Puisi berjudul ‘Sajak Tangan Besi’ ciptaan Fadli Zon di atas merupakan cerminan anggapan sebagian besar rakyat terhadap rezim berkuasa ketika ini. Penguasa yang memerintah dengan tangan besi dan selalu berupaya menutup rapat pintu demokrasi.

Pemenjaraan musisi Ahmad Dhani menjadi bukti aktual betapa kuping penguasa begitu tipis terhadap kritikan. Hanya gara-gara empat cuitan di media sosial, ia dipaksa mendekam 1,5 tahun di penjara. Maka masuk akal kalau dikatakan rezim ini sangat anti-kritik.

Publik mulai membanding kelakuan rezim Jokowi dengan pemimpin terdahulu. Era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Semua tahu, 10 tahun dipimpin SBY, demokrasi di negeri ini mencapai taraf tertinggi semenjak negara ini berdiri.

Pada abad 2004 hingga 2014 itu, aturan selalu menjadi panglima. Keadilan ditegakkan. Meski ada kekurangan di sana-sini, tapi pemerintah terus berusaha memperbaiki diri. Tidak menyerupai ketika ini, ketika ketidakadilan dipertontonkan secara gamblang.

Sedikitnya ada tiga bukti yang menunjukkan SBY merupakan figur yang sangat demokratis. Ia tak pernah berlaku otoriter, apalagi bertangan besi terhadap pengkritiknya. Kebebasan rakyat dalam beropini sangat ia junjung tinggi. Berikut buktinya;

Tagar #ShameOnYouSBY

Pada September 2014, jagat media umum Twitter diramaikan oleh tagar #ShameOnYouSBY. Kemunculan tagar itu dipicu agresi protes publik
terhadap perilaku Partai Demokrat yang melaksanakan walk out dalam sidang pembahasan RUU Pilkada.

SBY yang kala itu sudah berada di penghujung masa bhakti, tidak merespon negatif protes publik itu. Tak ada pula yang melarang-larang tagar itu untuk terus disuarakan, dan tidak ada pula yang melaksanakan sweeping terhadap demonstran yang membawa spanduk bertuliskan tagar tersebut.

Cabut Mandat SBY

Sedikit jauh ke belakang, Aktivis Hariman Siregar pernah menggalang massa untuk turun ke jalan pada Senin 15 Januari 2007. Aksi yang bertajuk Pawai Rakyat Cabut Mandat ini diklaim sebagai simbol ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah. Aksi ini diikuti sejumlah tokoh yang tergabung dalam Indonesian Democracy Monitor (Indemo) serta 52 elemen antara lain pencetus tahun 1974, pencetus mahasiswa, buruh, nelayan, dan etnis Tionghoa.

Pada 2014, agresi serupa kembali terulang. Kali ini dikomandoi Hatta Taliwang. Mantan anggota dewan perwakilan rakyat periode 1999-2004 dan salah satu dari 50 tokoh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) yang sempat menjadi tersangka kasus makar di rezim Jokowi ini, menyerukan tuntutan dan melaksanakan upaya untuk menggulingkan kekuasaan Presiden SBY.

Hatta mengirimkan surat terbuka pada MPR-DPR untuk memanggil SBY atas dugaan tidak transparan ihwal utang yang masih ditanggung negara. Ia bersama Komite Nasional Penyelamat Rakyat (KNPR) juga mendorong adanya sidang istimewa untuk menurunkan Presiden SBY.

Secara aturan, kedua agresi tersebut inkonstitusional. Bertentangan dengan aturan dan menyalahi konstitusi. Namun, pemerintah ketika itu sama sekali tidak menanggapinya dengan represif. Tidak ada yang ditangkap, apalagi didakwa sebagai pelaku perbuatan makar terhadap pemerintahan yang sah. Terasa sekali kan bedanya dengan abad kini ini?

Demo Kerbau SiBuYa

Terakhir, pada 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono yakni tanggal 28 Januari 2010, pencetus Yosef Rizal membawa seekor kerbau ke Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Di kerbau yang ia bawa itu terdapat foto SBY dan goresan pena dengan cat putih “SiBuYa”. Banyak yang berang dengan agresi ini alasannya ialah tidak beretika menyamakan insan dengan binatang. Apalagi yang disindir ini ialah seorang presiden, simbol negara.

SBY terperinci kesal ketika itu. Namun meski dilecehkan, ia tidak pernah melaksanakan tindakan represif terhadap para pendemo itu. Mereka dibiarkan bebas menyuarakan aspirasi. Jika ada yang salah, pemerintah juga menempuh jalur yang benar, sesuai koridor aturan yang berlaku. Seperti melaporkan kepada pihak kepolisian, bukan menggelar agresi tandingan, atau menurunkan preman bayaran.

Ini terbukti, seminggu sehabis insiden tersebut, Yosef kembali turun ke jalan untuk meminta SBY-Boediono dipecat. Ia tidak menerima perlakuan represif dari pegawanegeri dalam aksi-aksinya itu. Karena ketika itu pemerintah SBY sadar, demokrasi memang berisik. (*)

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Orde Demokrasi Vs Tangan Besi