Klarifikasi Konferensi Pers Fh


Klarifikasi Konferensi Pers FH

Oleh: Hudzaifah Muhibbullah
(Putra [alm] Ustadz Taufik Ridlo)

Karena nama Ayah saya dan juga saya disebut dalam konferensi pers Fahri Hamzah ini (1/2/2019), saya ingin menunjukkan sedikit klarifikasi, pada ketika proses pemecatan itu berlangsung Ayah saya merupakan pimpinan/qiyadah PKS (Sekretaris Jenderal - Anggota DPTP). Paska Ayah saya meninggal, saya mewarisi banyak hal dari Ayah saya, termasuk Handphone dan Laptop beliau. Makara saya sangat paham kondisi waktu itu bagaimana, alasannya yakni terdokumentasikan Informasinya. Dalam konferensi Pers ini Fahri Hamzah menceritakan kronologi cukup detail terkait proses pemecatannya dan juga memberikan apa langkah-langkah kedepan yang akan diambil.


Salah satu yang dibahas yang sebenarnya sudah terbukti di Pengadilan Negara yakni terkait "Pemufakatan Jahat". Jika kita sederhanakan kedalam bahasa sederhana, pemufakatan jahat itu yakni kongkalikong. Di fakta persidangan terbukti bahwa 'Pengadilan PKS' antara Penyidik (fungsi Polisi), Jaksa, Hakim dan Eksekutor dalam bahasa PKS yakni BPDO, Majelis Qadha, Majelis Tahkim melaksanakan pemufakatan jahat untuk menyingkirkan FH dengan menunjukkan Hukuman paling berat (Pemecatan). Salah satu alasan yang sebenarnya memenangkan FH di Pengadilan Negara yakni sistem pengadilan Internal yang begitu abstrak dan tidak ada Asas Keadilan disana. Di Peradilan PKS: Penyidik, Jaksa dan Hakim merangkap jabatan, sebenarnya hal ini begitu abstrak apalagi dihadapan budi Hukum. Ini menyerupai dalam organisasi super Absolut yang fasis. Semuanya terserah Raja.

Setelah itu FH juga menyebutkan wacana Ketua MKD dewan perwakilan rakyat dari PKS (Surahman Hidayat, yang juga Ketua Dewan Syariah PKS -red) yang dicopot oleh MKD dari jabatan Ketua MKD DPR karena menciptakan Surat Palsu untuk memuluskan pemecatan FH. Sebetulnya hal ini dapat saja menjadi tindak pidana. Lalu FH juga membahas terkait pengumuman atau dalam istilah PKS yakni Bayanat yang disebar kepada seluruh kader PKS dan juga Publik (melalui situs resmi PKS) wacana Dosa FH versi Pimpinan PKS yang berujung pada pemecatan FH, yang sebenarnya hal itu tidak dibahas sama sekali di proses pengadilan pemecatan FH. Dan seluruh kader wajib mengamininya. Dan ini juga terbukti di pengadilan negara. FH juga membuka fakta terbaru terkait keterlibatan KMS (Ketua Majelis Syuro) dalam proses pemufakatan jahat ini dengan bukti yang sudah dia pegang.

Dalam konferensi Pers ini FH menyebutkan Langkah kedepannya adalah: tuntutan lanjutan bahkan dapat menjadi tuntutan pidana kepada beberapa peristiwa. Peristiwa tidak melaksanakan putusan pengadilan, Bukti affiditat, Peristiwa Laporan ke BPDO yang absurd, dan Bayanat.

Lalu dalam konferensi Pers ini FH menyebutkan bahwa semua keputusan tidak ditandatangani Ayah saya/Sekjen PKS, alasannya yakni Sekjen sama sekali tidak mengetahui dan tidak dilibatkan dalam permasalahan ini, sehingga Sekjen enggan untuk menandatanganinya. Saya penjelasan bahwa itu BENAR ADANYA. Sebetulnya Ayah saya diminta bersaksi di Pengadilan Negara (dalam somasi FH), tapi dia menolak, alasannya yakni ya memang sedih. Bisa jadi jikalau Ayah saya bersaksi pada waktu itu, hukumannya (denda Rp 30 M kepada 5 oknum Pimpinan PKS) akan lebih berat daripada eksekusi yang ada sekarang.

Saat Ayah saya menjabat sebagai Sekjen PKS periode 2015-2020, Ayah saya aneka macam tidak dilibatkan dalam keputusan-keputusan. Tiba-tiba disodorkan dokumen untuk ditandatangani. Fungsinya menyerupai hanya tukang tanda tangan saja. Saya pernah bertanya kepada beberapa kader PKS yang bersahabat dengan pimpinan pada waktu itu (Kenapa ayah saya tidak dilibatkan -red). Jawabannya abstrak juga: Katanya alasannya yakni Ayah saya bersahabat dengan Anis Matta, jadi takut gosip rapat DPTP bocor ke Anis Matta. Ini sungguh Absurd bagi saya.


Pernah juga ketika Ayah saya masih menjabat sebagai Sekjen, menyerupai kena boikot. Setelah banyak hal yang terjadi, Ayah saya memutuskan untuk mundur dari posisi tinggi itu (mundur sebagai Sekjen). Setelah mundur Ayah saya sempat ingin mengisi-berbagi ilmu dengan kader-kader PKS termasuk di Eropa. Tapi hal itu tidak diizinkan oleh DPP, padahal Ayah saya merupakan anggota Majelis Syura PKS dengan raihan bunyi salah satu yang tertinggi dan belum usang sebelumnya juga yakni Pimpinan. Ya memang pada prosesnya ada orang yang ingin membelah PKS ini dengan munculnya dokumen hantu (OSAN OSIN -red) yang disebar keseluruh pelosok (ke kader PKS -red). Meniupkan Faksionalisasi dan membenturkannya.

(Hudzaifah bersama almarhum ayahnya, ust Taufik Ridlo)

Saya sebagai anak yang lahir besar di PKS sungguh menyayangkan hal ini terjadi sebetulnya. Kok dapat dalam kultur PKS, Pimpinan itu niscaya benar dan itu diaminkan oleh aneka macam kader-kader. Bahkan kader dengan titel Doktor-Master lulusan Amerika-Eropa-Ausie yang kritis sekalipun, jikalau berhadapan sama PKS, kritisnya ya hilang entah kemana. Padahal jikalau dikritisi secara akademis keputusan Pimpinan itu benar-benar salah. Doktrin yang digunakan taat qiyadah, ya kalau Qiyadah salah bagaimana? Masa ada Qiyadah menjiplak surat demi pemecatan? itu kan jelas-jelas salah. Masa surat pecat bocor ditangan intel? itu kan salah. Ya masa keputusan-keputusan itu dilarang dikritisi dan diralat demi nama Pimpinan. Ya kan pimpinan juga insan punya salah. Majelis Syura menyerupai tidak punya fungsi apalagi paska keputusan yang mebuat Pimpinan semakin Absolut. Kalau doktrinnya taat Qiyadah, Al-Inadh dll, dalam hal bernegara pun ya sama. Jokowi itu Qiyadah, Ulil Amri. Tapi tiap hari dikritisi juga sama kader PKS. Kok itu dibolehkan?

Ini kritik substansial saya tanpa menyerang personal: Jika kultur begini masih ada di PKS, ini ancaman dan sangat tidak relevan sama Zaman. Saya sebagai generasi millenials ya sama sekali tidak cocok dengan pendekatan-pendekatan diktatorial menyerupai itu. Jika pemikiran Paling merasa paling benar ini terus ada, bagaimana nanti kedepan? Jangan bilang kesaya: "sudahlah jangan urusi dapur rumah tangga orang lain." Saya katakan: Ibu saya kader jago PKS, Bapak saya mantan Sekjend PKS dan punya Karya Monumental yang niscaya kader PKS tau, tentu saja saya ada ikatan emosional. Dan PKS itu Partai, organisasi Publik. Saya aktif di Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia, silahkan siapapun kritisi sepedas-pedasnya. Kritik yang baik tentu akan menjadi pelajaran. Kedepannya saya yakin akan banyak bekerja sama dengan kader-kader PKS, walaupun kondisi ketika ini masih hangat cenderung panas. Tapi kedepannya saya yakin akan bekerja sama dalam misi super besar. Harapannya kultur PKS kedepan dapat lebih terbuka tidak diktatorial sehingga kerjasama pun menjadi lebih asyik. Saya kenal aneka macam mitra di PKS yang luar biasa cerdasnya. Jika mereka menjadi pimpinan PKS kedepan, tentu akan lebih baik.

Wallahu'alam.

03-02-2019

[Video - Konpers FH]


Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Klarifikasi Konferensi Pers Fh