Jokowi Melawan Air Mata


DUL memainkan tuts keyboardnya dengan gemetar. Matanya merah menahan air mata. Beberapa detik lalu Dul alhasil tak kuasa menahan lagi, basahlah jua kedua pipinya.

Foto besar Ahmad Dhani yang tersorot di layar belakang menambah haru momen itu. Ari Lasso dan Andra Ramadhan memeluk Dul bergantian. Tangis ribuan penonton pecah ibarat koor yang dikomando oleh kegeraman Al dan Dul yang begitu dalam atas ketidakadilan yang diterima ayah mereka.

Video Tribute to Ahmad Dhani dalam Konser Reuni Dewa19 di Malaysia kemarin malam itu eksklusif viral. Jutaan netizen Indonesia ikut larut dalam keharuan momen tersebut. Tak sedikit yang menulis bahwa mereka ikut menangis. 

Percaya atau tidak, menangis memang bisa menular. Tangisan orang lain merangsang munculnya emosi serta beban yang terpendam dalam diri kita. Apalagi jikalau beban yang dipendam tersebut bersifat kolektif, yaitu ketika duduk perkara yang sama dirasakan oleh banyak orang, maka pengaruh penularannya bisa lebih cepat. Dalam psikologi ini disebut emotional contagion.

Ketidakadilan aturan yang dirasakan rakyat di rezim ini ialah punca dari pecahnya air mata kolektif itu. Mereka yang menangis bukanlah orang-orang cengeng, melainkan orang-orang yang sudah tidak bisa menahan emosi kemarahan yang meluap-luap. Kasus Ahmad Dhani telah menjebol benteng terakhir kendali emosi mereka.

Emosi kemarahan mereka terang ditujukan kepada siapa, yaitu kepada rezim yang dianggap gagal menegakkan keadilan hukum. Bagi mereka Ahmad Dhani ialah simbol dari apa yang mereka rasakan sehari-hari. Ribuan orang masih terus mencicipi ketidakadilan aturan di jalan raya, di kantor-kantor layanan publik, bahkan di ruang-ruang persidangan. Mereka kini melaksanakan gerakan pembangkangan lewat air mata, bersumpah di dalam hati untuk mengganti rezim biar penegakan aturan nantinya menjadi lebih baik.

Inilah yang kini harus dihadapi Joko Widodo: air mata jutaan rakyat yang sudah tidak mau lagi mentolerir ketidakadilan hukum. Mereka menangis bukan untuk Ahmad Dhani, tapi untuk mereka sendiri.

Air Mata Bisa Mengubah Masa Depan Demokrasi

Kasus Ahmad Dhani ialah missing link yang melengkapi gelora perlawanan terhadap rezim ini. Inilah keping terakhir yang dinanti-nantikan.

Sebelumnya, gelora perlawanan terhadap rezim memang sudah besar lengan berkuasa dan militan. Namun belum ada momen yang berhasil menjebol kontrol emosi para penentang rezim. Belum ada air mata kolektif yang tumpah untuk Prabowo maupun Sandi. Meski keduanya ialah ujung tombak perlawanan ini.

Air mata kolektif itu gres tumpah sehabis Ahmad Dhani dipenjara. Efeknya ibarat bola salju yang terus menggulung dan membesar. Mereka yang ragu menjadi yakin, dan yang sudah yakin semakin mantab memilih apa yang harus mereka perjuangkan. Tak sedikit pendukung rezim yang turut tersentuh hatinya, dan mulai sadar bahwa ketidakadilan tersebut memang nyata. Sebagian pendukung rezim memang bisa mencicipi sekali apa yang dialami Dhani, alasannya diantara mereka pun ada yang terpaksa memperlihatkan pertolongan alasannya tersandera.

Keluarnya air mata membutuhkan dorongan emosi yang sangat kuat. Butuh juga rasa sakit di hati yang begitu dalam. Manusia dengan mood ibarat ini mempunyai motivasi yang berlipat-lipat, siap melaksanakan apa saja untuk mengobati sakit hatinya. Termasuk dalam konteks ini, memperhebat perlawanan mereka terhadap rezim.

Situasi ini tentu tidak menguntungkan Jokowi. Sebab disaat yang sama, militansi pendukungnya justru makin mengendor. Ini alasannya Jokowi gagal menjaga aset terbesarnya, yaitu simpati rakyat. Rakyat tidak punya lagi alasan untuk menumpahkan air mata demi Jokowi. Ia telah bermetamorfosis sebagai sosok penguasa yang lebih erat kepada elit, pemimpin yang tidak tersentuh dan berjarak dari rakyat. Ia membungkam kritik dari mitra dan lawan. Ia bukan lagi Jokowi yang dulu.

Simpati rakyat kini diberikan kepada mereka yang menjadi korban kekuasaan dan ketidakadilan. Rakyat menemukan kesamaan nasib mereka dengan nasib Ahmad Dhani. ‘Dhani ialah Kita’, mungkin itulah yang kini ada di hati mereka.

Ahmad Dhani sendiri pernah menulis lagu berjudul ‘Air Mata’ pada tahun 2002, yang kini mulai diputar kembali dimana-mana. Menarik untuk mengikuti bagaimana kekuatan air mata ini bisa memilih arah perbaikan demokrasi Indonesia selanjutnya.[***]

Harryadin Mahardika
Pengamat Kebijakan Publik [rmol]

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Jokowi Melawan Air Mata