Jangan Merasa Berkuasa, Yang Honor Kau Siapa?


[PORTAL-BERSAMA.WEB.ID]  Adagium "negara ialah aku" sekarang hidup kembali sesudah reformasi kita berdemokrasi. Negara diidentikkan dengan pemegang kekuasaan.

Pembangunan negara seolah-olah ialah milik satu orang. Itulah yang disebut sebagai kediktatoran yang nyata. Sedangkan beban negara diserahkan kepada rakyat.

Konstitusi tidak pernah membuka ruang bagi adagium itu. Tapi sebab kepongahan, mereka nekat mengklaim bahwa mereka lah pemilik segalanya.

Semenjak itu pula sebaris tukang puja-puji, bertindak bebas dan merasa sok kuasa.

Sudah hampir lima tahun mereka memegang kuasa dan menganggap diri paling kuasa. Siapa saja yang berbeda, dilaporkan, kemudian dengan sigap ditindak. Tapi saat mereka dilaporkan, tidak diperiksa.

Tatanan aturan rusak, narasi kebangsaan tersumbat, kehidupan getir, sebab sok kuasa.

Semua menjadi milik mereka. ASN yang diangkat dan digaji oleh negara untuk mengabdi pada negara dianggap dikaji oleh yang tiba lima tahun dan pergi dengan segala beban. Padahal seumur hidup mereka bekerja untuk negara. Tapi sebab sok kuasa, semua diklaim dari mereka semua.

Infrastruktur yang dibangun dengan hutang, yang menjadi beban masa depan bangsa, yang akan menjadi beban generasi yang akan datang, dianggap milik si penguasa. Uang negara dianggap uang pribadi. Jadilah sekelompok tirani bermain-main atas nama negara.

Mereka mengklaim keberhasilan itu milik mereka. Lalu "sejuta" beban dan tumpukan duduk perkara mereka basuh tangan. Mereka menyerupai perampok besar yang tiba dengan sadis dan pergi meninggalkan luka. Siapa yang akan menanggung? Ya rakyat.

Kekuasaan pongah, insan kerdil, baju kekuasaan secuil, bertindak mirip kolam pemilik alam semesta. Menuduh Aksi 212 sembarangan, merusak jutaan nama umat Islam, tapi mana ada yang mau menindak perusak ini? Mereka intinya bukan siapa2, tetapi mereka berkuasa.

"Firaun" moderen sedang membangun di atas tumpukan hutang. Dengan sombong ia mengaku diri. Dia siapa dan darimana asal usulnya, masih dipertanyakan. Tapi merasa diri paling hebat. Pemujanya sedang menghamba padanya atas uang dan kebutuhan perut.

Saya menyebutnya pemburu rente.

Itulah... Kalau kita bicara keras kepada mereka mirip ini, kita dianggap sebagai pembenci dan radikal. Tapi saat mereka mencaci, marah-marah, mengancam orang, tiada satupun orang yang melihat kesalahan si pongah ini. Rusaklah bangsa kita.

Kalau ini berlanjut, berbahaya.

Segerombolan perusuh ini sedang mendapat panggung untuk memancing perpecahan. Tidak perlu isi kepala, yang penting dapat marah-marah dan caci maki.

Tapi jikalau umat Islam menanggapi, umat Islam akan dituduh radikal. Kita nggak tahu yang menuduh jutaan umat Islam di monas itu siapa? Mereka bebas ikut campur, tapi kita tdk boleh.

Mereka lupa diri, sebab menganggap diri yang paling benar dan berkuasa. Yang honor kau siapa?

Presiden makan honor dari mana? Menteri makan honor dari mana?
ASN makan honor dari mana?
Kamu yang membabi buta memuji, digaji oleh siapa?
Kamu yang bilang infrastruktur milik tuanmu, yang honor kau siapa?

Kalian benar-benar telah membuktikan kepongahan, angkuh dan sok berkuasa, Ini negara bukan Perusahaan milik tuanmu, ini negara milik bersama. Uang negara bukan uang tuanmu.

Pembangunan negara bukan dibangun sebab tuanmu, tapi ini kebutuhan negara, bukan kebutuhan elektabilitas.

Lalu kau menyampaikan tanpa rasa malu, infrastruktur itu seolah-olah milik tuanmu. Dengan sombong tanpa rasa malu, kau bertanya "yang honor kau siapa?" Seakan-akan dedikasi mereka kau honor dengan uang pribadimu. Kau sendiri lupa siapa yang honor kau dan bosmu.

Kau "mengusir" orang yang tidak pilih tuanmu dari jalan tol. Seperti tol itu kau berdiri untuk kerajaan tuanmu. Ini bentuk terburuk dari wajah tirani kekuasaan.

Mumpung masih berkuasa, merasa paling berhak. Jangan sok kuasa lah, hidup ini masih panjang dan negara bukan ada sebab hanya untuk kalian.

Maka sebab itu, ini pertaruhan penting bagi bangsa dan rakyat yang merindukan keadilan dan kemakmuran.

Ini pertaruhan umat Islam yang moderat untuk membuktikan bahwa kekuatan Modernis ini ialah untuk memajukan bangsa, bukan sok kuasa.

Penulis: Dr. Ahmad Yani, S.H., M.H.
Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Jangan Merasa Berkuasa, Yang Honor Kau Siapa?