Hakim Merry Dikasih Uang Pelipur Lara Rp 500 Juta


PORTAL-BERSAMA.WEB.ID - Tamin Sukardi mengucurkan uang Rp 500 juta untuk hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Medan Merry Purba. Ia menyebutnya uang "pelipur lara". 

Istilah ini digunakan karena Merry pernah mengeluh tak sanggup apa-apa atas persetujuan perubahan status Tamin dari tahanan rutan menjadi tahanan kota. 

Ini terungkap dari kesaksian Hadi Setiawan, sobat Tamin yang menjadi mediator suap. Pengusaha properti di Surabaya menuturkan awalnya diminta Tamin ke Medan. Katanya ada kerjaan. "Tambah semangat aja," kata Hadi pada sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. 

Pada 24 Agustus 2018 Hadi Setiawan tiba ke kantor Tamin di Jalan MH Thamrin, Kota Medan. Kepada Hadi, Tamin curhat mengenai persidangan perkaranya. Tamin menjadi terdakwa masalah korupsi pencaplokan lahan negara bekas perkebunan PTPN II di Deli Serdang. 

Tamin mengungkapkan, Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Medan, Helpandi memberi tahu ada anggota majelis yang belum sanggup apa-apa selama menangani masalah Tamin. Helpandi juga menyarankan semoga Tamin meny­iapkan uang Rp 3 miliar. Sudah termasuk untuk menghipnotis putusan majelis hakim. 

Tamin telah menyanggupi mem­berikan uang buat hakim. Ia mem­inta Hadi yang menyerahkannya. Tamin kemudian mengucurkan 280 ribu dolar Singapura setara Rp 3 miliar ke Hadi. Valuta gila itu dimasukkan di amplop cokelat. 

Setelah mendapatkan uang, Hadi menginap di hotel JW Marriot, Kota Medan. Hadi mengontak Helpandi. Meminta tiba ke hotel. "Pas aku kasih, Helpandi (langsung) masukin kantong," tutur Hadi. 

Dalam dialog dengan Helpandi, Hadi mengungkapkan sebelumnya telah menunjukkan uang Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo yang jadi ketua majelis hakim masalah Tamin. 

Hadi berpesan kepada Helpandi uang 280 ribu dolar Singapura ini untuk dua anggota majelis: Merry Purba dan Sontan Merauke Sinaga. Hadi juga mewanti-wanti semoga secepatnya membagi-bagikan uang ini. 

"Besoknya ia (Helpandi) lapor (uang) sudah didistribusikan," tutur Hadi. Helpandi me­lapor sudah menunjukkan Rp 1,5 miliar ke Merry. Uang Rp 1 miliar untuk menghipnotis putusan. Sisanya Rp 500 juta untuk "pelipur lara" sebab belum sanggup imbalan perubahan status tahan. Kemudian diserahkan ke Sontan Rp 500 juta. 

"Yang Rp1 M masih ia (Helpandi) tahan," sebut Hadi. 

Dalam surat dakwaan disebut­kan, Tamin menyuap majelis hakim semoga mengubah statusnya menjadi tahanan kota. Selain itu untuk menghipnotis putusan perkaranya. 

Helpandi kemudian menciptakan draf penetapan perubahan status Tamin menjadi tahanan kota. Disodorkan ke majelis hakim untuk ditandatangani. Namun Merry tak eksklusif menekennya. "Kerja bakti aja kita dek," sindirnya. 

Helpandi menangkap sindiran sebagai undangan imbalan atas persetujuan perubahan status penahanan Tamin. Helpandi memberikan pesan ini ke Tamin. 

Dalam percakapan telepon, Tamin memberi tahu Helpandi bahwa ketua majelis sudah menerima uang. "Pak Wakil (PN Medan, sudah aman. Sudah da­pat 'pohon'," sebut Tamin. 

Tamin kemudian meminta masukan dari Helpandi berapa uang yang harus disiapkan untuk anggota majelis hakim. Juga untuk mem­pengaruhi putusan. Helpandi menyebut angka Rp 3 miliar. 

Setelah mendapatkan 280 ribu dolar Singapura melalui peran­tara Hadi, Helpandi menemui Merry. "Besok kita jumpa di Jalan Adam Malik di sekitar showroom-showroom. Kamu kenal kendaraan beroda empat Ibu kan dek?" kata Merry. 

Esok harinya, 25 Agustus 2018, di lokasi yang ditunjukkan Merry, Helpandi menyerahkan 150 ribu dolar Singapura kepada laki-laki yang mengendarai Toyota Rush putih milik Merry. 

Sisa uang 130 ribu dolar Singapura rencananya hendak diberikan ke Sontan usai pemba­caan putusan masalah Tamin. 

Dua hari kemudian, 27 Agustus 2018, majelis hakim membacakan putusan masalah Tamin. Ia dinyata­kan terbukti melaksanakan korupsi se­cara bersama-sama. Tamin dijatuhi eksekusi 6 tahun penjara. 

Merry menyatakan beda pendapat atau dissenting opin­ion. Ia menilai dakwaan tidak terbukti. Dalihnya sudah ada putusan perdata yang sudah berkekuatan aturan tetap terkait duduk masalah lahan eks PTPN II. 

Sehari sehabis putusan, Helpandi dicokok KPK. Di tangannyamasih ada uang 130 ribu dolar Singapura jatah untuk Sontan. 

Menurut jaksa KPK, perbua­tan Merry diancam pidana Pasal 12 aksara c juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. 

Atau, Pasal 12 aksara a juncto Pasal 18 Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Atau, Pasal 11 juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [rmol]

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Hakim Merry Dikasih Uang Pelipur Lara Rp 500 Juta