Demi Netralitas Jelang Pemilu 2019, Joko Widodo Perlu Ganti Kepala Bin Akal Gunawan


PORTAL-BERSAMA.WEB.ID - Perhelatan pesta demokrasi lima tahunan kurang dari tiga bulan. 

Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) secara serentak digelar pada 17 April 2019.

Seyogyanya, Pemilu harus berlangsung jujur, adil dan demokratis.

Tapi ada satu hal yang sanggup mengancam keberlangsungan Pemilu 2019 di Indonesia yaitu posisi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang sudah memasuki tahun ketiga dipimpin Budi Gunawan dari PDI Perjuangan.

Secara struktural organisasi, BG (panggilan Budi Gunawan) memang tak ada namanya sebagai pengurus.

Tapi sepanjang tiga tahun menjabat sebagai kepala BIN, ia tampak begitu loyal dan ngintil ke manapun Megawati Soekarnoputri pergi.

Kunjungan Megawati ke luar negeri, acara Megawati pribadi dan PDIP tingkat nasional, selalu ada BG.

Ibarat pepatah, ada gula ada semut. Begitu juga Budi Gunawan sebagai kepala BIN dan Megawati sebagai ketua umum PDIP.

Di mana ada Mega, disitu ada BG.

Kalau BG tidak menduduki posisi yang luar biasa strategis, tidak duduk kasus jikalau ia mengintili acara Megawati dan PDIP.

Tapi posisi BG yaitu kepala BIN.

Seorang kepala BIN seharusnya menjaga jarak semua kekuatan politik di negara ini demi menjaga netralitas.

Itu kesalahan Budi Gunawan selama tiga tahun ini sebagai kepala BIN.

Ia mengakibatkan BIN seolah menjadi mesin dan anak organisasi PDIP.

Lalu, dalam beberapa insiden di Indonesia, BIN gagal melaksanakan deteksi dan cegah dini.

Yang paling fatal yaitu penembakan di Nduga, Papua, pada tahun 2018 lalu, di mana puluhan warga sipil tewas ditembaki anggota OPM.

Intelijen kita tumpul setumpul-tumpulnya di bawah kepemimpinan Budi Gunawan.

BG terkesan hanya sibuk mendampingi Megawati.

Tindakan BG ini tak pantas diteladani dan tak boleh dibiarkan.

Sebab user atau pengguna dari BIN yaitu presiden selaku kepala negara.

User dari BIN bukan Megawati, walau ia seorang mantan presiden.

Presiden Jokowi harus bertindak tegas.

Berikan kesempatan semua parpol penerima Pemilu 2019 untuk mengikuti pesta demokrasi tanpa rasa waswas yaitu dengan memperlihatkan jabatan kepala BIN kepada seseorang yang tidak merangkap jadi 'ajudan' ketua partai politik, yang kerjanya lebih banyak melancong.

Presiden Jokowi niscaya bisa mencari figur yang sempurna sebagai kepala BIN.

Berbeda dengan pengangkatan calon Panglima Tentara Nasional Indonesia dan calon Kapolri yang baru, di mana menurut berdasarkan UU, wajib menerima persetujuan DPR.

Untuk calon kepala BIN, sebagaimana diatur dalam UU 17/2011 perihal Intelijen, presiden (cukup) menerima pertimbangan ibarat yang tercantum dalam:

Pasal 36: 

(1) Kepala Badan Intelijen Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 diangkat dan diberhentikan oleh Presiden sehabis menerima pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(2) Untuk mengangkat Kepala Badan Intelijen Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Presiden mengusulkan satu orang calon untuk menerima pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(3) Pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terhadap calon Kepala Badan Intelijen Negara yang dipilih oleh Presiden disampaikan paling lambat 20 (dua puluh) hari kerja, tidak termasuk masa reses, terhitung semenjak permohonan pertimbangan calon Kepala Badan Intelijen Negara diterima oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Indonesia harus sanggup melaksanakan pesta demokrasi secara baik, benar, jujur, adil dan demokratis.

Budi Gunawan memang sudah saatnya diganti. Sebab ia sudah kelamaan menjadi kepala BIN yaitu hampir tiga tahun.

Netralitas BIN di tahun politik 2019 patut dipertanyakan jikalau BG masih menjabat. [rmol]

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Demi Netralitas Jelang Pemilu 2019, Joko Widodo Perlu Ganti Kepala Bin Akal Gunawan