Cak Jancuk Melawan Rusia


"Cak Jancuk" Melawan Rusia

Oleh: Nasruddin Djoha

SAYA bergotong-royong tidak setuju dengan julukan gres Presiden Jokowi yang satu ini. Seorang presiden, siapapun dia, harus kita hormati.

Kita boleh tidak suka secara pribadi, tapi forum kepresidenan harus tetap kita hormati. Presiden yaitu representasi negara. Kaprikornus jikalau hingga menjuluki seorang presiden dengan panggilan yang tidak pantas, dapat masuk kategori contempt of president. Penghinaan terhadap simbol negara.

Mungkin alasannya yaitu yang memberi julukan yaitu para pendukungnya, para die hard, jadi dianggap bukan penghinaan. Tapi tetep saja saya risi menggunakannya. Makanya saya kasih tanda petik. Jadilah "Cak Jancuk". Lebih sopan. Tidak ada maksud menghina. Hanya mengutip panggilan dari para pendukungnya.

Jancuk itu umpatan. Sumpah serapah. Misuh gaya Suroboyoan. Mosok seorang presiden dari sebuah negara besar menyerupai Indonesia disumpah serapahi. Dipisuhi.

Panggilan ini mengingatkan saya pada pepatah. Kalau ingin tahu siapa orang itu, lihatlah siapa temannya. Siapa pendukungnya, dan siapa pelindungnya.

Ikan teri akan bergaul dengan ikan teri. Ikan tongkol, bergaul dengan ikan tongkol. Gak ada ceritanya ikan teri berkumpul dengan ikan tongkol. Bakal ditelen habis.

Pepatah Arab menyampaikan "Bila ingin harum, bergaul lah dengan pedagang parfum. Kalau gak mau terkena jelaga, jangan bergaul dengan pedagang arang".

Dalam konteks kedaulatan dan simbol negara inilah kini "Cak Jancuk," Eh …maaf keceplosan lagi, Presiden Jokowi punya duduk kasus dengan Rusia. Negara berdaulat dan menjadi salah satu sahabat penting Indonesia.

Ketika berkampanye di Karang Anyar, Jokowi menuding tim Prabowo-Sandi memakai konsultan absurd dan menerapkan propaganda Rusia. Mereka membuatkan isu bohong secara bertubi-tubi kepada masyarakat, supaya masyarakat menjadi ragu terhadap fakta yang sebenarnya.

"Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, tidak mikir menggangu ketenangan rakyat atau tidak. Ini menciptakan rakyat khawatir atau tidak, enggak peduli. Konsultannya konsultan asing," papar Jokowi.

"Terus yang antek absurd siapa? Jangan hingga kita disuguhi kebohongan yang terus menerus. Rakyat sudah pintar, baik yang di kota atau di desa," sambung Jokowi.

Tudingan Jokowi ini menciptakan kuping Duta Besar Rusia di Jakarta panas. Mereka membantah terlibat dalam kampanye di Indonesia, dan menegaskan sama sekali tak ikut campur dalam urusan dalam negeri mana pun.

Kedubes Rusia juga menyebut tudingan adanya kekuatan Rusia di balik 'kekuatan-kekuatan politik tertentu di Indonesia, tidak berdasar. Keterangan Kedubes Rusia tersebut dirilis melalui akun media umum Kedubes Rusia @RusEmbJakarta, Senin (4/2/2019).

Tudingan konsultan absurd terlibat dalam kampanye Prabowo-Sandi bergotong-royong bukan kali ini saja dilancarkan. Ketika Prabowo memberikan Pidato Kebangsaan, para pendukung Jokowi ramai-ramai menciptakan isu hadirnya seorang konsultan asing.

Namanya Rob Allyn yang menjadi konsultan Presiden Trump pada Pilpres di AS. Padahal orang itu yaitu staf kedutaan negara sahabat yang hadir.

Ketika berlangsung debat paslon tanggal 17 Januari tuduhan tersebut kembali terulang. Foto Atase Politik Kedutaan AS di Jakarta, Steve Watson tersebar di medsos dan dsiebut sebagai Rob Allyn. Padahal Steve hadir atas usul KPU. Bukan tim Prabowo-Sandi.

Lha kok kini tudingan itu dimuncukan oleh Jokowi. Berarti bergotong-royong isu kebohongan, alias hoax itu bukan hanya atas inisiatif pribadi para pendukungnya. Tapi sebuah taktik kampanye yang secara resmi dirancang oleh TKN. Strategi maling teriak maling.

Implikasi tudingan Jokowi ini kemungkinan dapat menciptakan murka AS. Propaganda Rusia dikait-kaitkan dengan taktik kampanye yang diterapkan oleh Donald Trump ketika mengalahkan Hillary Clinton.

Trump yaitu Presiden AS. Sekarang konsultan Trump dituding membantu Prabowo menerapkan propaganda Rusia di Indonesia. Amerika dan Rusia gotong royong mendukung Prabowo-Sandi.

Duh Pak Jokowi ingkang ngatos-atos. Hati-hati menuduh orang lain jadi antek asing. Kedubes Rusia sudah marah. Ini merupakan perilaku resmi pemerintah Rusia. Kalau ditambah pemerintah AS ikut-ikutan marah, kan bakalan tambah repot.

Mumpung belum telanjur jauh dan urusannya jadi panjang, jikalau boleh menyarankan, pernyataan itu segera diralat.

Soal ralat-meralat kan biasa. Pak Jokowi jagonya. Berbagai keputusan dan hukum saja biasa diralat, apalagi cuma ucapan.

Pak Jokowi lewat Menlu dapat menyampaikan, ada kesalahan kutip dari media. "Maksudnya Propaganda Raisa, bukan Rusia".

Kaum milenial niscaya bahagia diproganda oleh Raisa. Gak dipropaganda saja banyak yang terkiwir-kiwir, apalagi dipropaganda.

Media juga dijamin tak akan murka disalah-salahkan oleh Pak Jokowi. Para pemiliknya kan hoppeng. Salah benar, akan dilindungi. Paling yang ngedumel para wartawannya. Mereka punya rekaman orisinil pernyataan pak Jokowi. Mereka tidak salah kutip. Tapi mereka dapat apa?

*) Penulis yaitu pemerhati politik dan pemilihan umum

Sumber: RMOL


Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Cak Jancuk Melawan Rusia