Bung Karno, Misteri Kacamata Tembus Pandang Dan Bocornya Dokumen Rahasia


[PORTAL-BERSAMA.WEB.ID]  Di antara kita pernah mendengar rumor perihal "kacamata riben" milik Bung Karno.

Kacamata ghaib” itu sampai sekarang masih menjadi misteri. Benar atau tidak keberadaan kacamata itu, hanya Bung Karno yang tahu. Konon katanya kacamata Bung Karno itu sanggup menembus pakaian sehingga orang yang berada di depanya terlihat telanjang bulat.

Jika anda pernah menonton film Totall Recall (2012), kira-kira menyerupai itulah cara kerja kacamata tembus pandang itu. Total Recall ialah film fiksi ilmiah, yang menceritakan perihal konflik politik dan penggunaan teknologi masa depan. Termasuk diantaranya perihal “agen diam-diam virtual”, yang dilengkapi dengan perangkat spionase berupa kacamata tembus pandang.

Kini kacamata menyerupai itu tidak lagi menjadi barang Istimewa dan misterius menyerupai di zaman Bung Karno dulu. Teknologi menyerupai itu sudah sangat umum dipakai oleh penegak aturan dan dunia intelijen untuk kepentingan pemberantasan kejahatan transnasional, menyerupai terorisme sampai narkoba.

Kabarnya Advance Technologie Centre, sebuah laboratorium riset dari perusahaan BAE system di Inggris telah menyebarkan kacamata tembus pandang tersebut. Mereka memanfaatkan teknologi spectrum kecil gelombang radio, yaitu gelombang terahertz.

Namun demikian, goresan pena ini tidak bermaksud mengupas perihal teknologi kacamata tembus pandang tersebut. Kira-kira menyerupai itulah citra perihal dunia yang gres yang sedang kita hadapi dikala ini dan ke depan. Dunia yang gres itu tak sekedar transparan dan terbuka.

Perangkat dunia yang gres itu sanggup menciptakan segalanya menjadi telanjang bulat. Persis menyerupai kacamata tembus pandangnya Bung Karno yang konon katanya sanggup melihat lekukan badan setiap wanita.

Jika di dalam perangkat dunia yang lama, yang manual, masih dibutuhkan regulasi perihal keterbukaan warta publik. Regulasi itu menjadi payung aturan bagi setiap warga negara untuk mengakses setiap ruang publik yang sengaja digelapkan dan dirahasiakan.

Tidak demikian lagi di dalam dunia yang gres ke depan. Persis menyerupai teknologi kacamata tembus pandang yang sanggup dibeli oleh setiap orang. Demikian juga, melalui kemajuan teknologi informasi, setiap orang juga sanggup menembus ruang publik yang sengaja digelapkan dan dirahasiakan itu. Setiap orang sanggup melihat secara telanjang segala sesuatu yang dulu nya di tabu-kan atau dirahasiakan.

Dunia Datar dan Telanjang

Para hebat menyebut dunia yang gres dikala ini sebagai dunia yang datar (the flat world). Thomas Friedman menulis pemikirannya di buku The World is Flat. Demikian juga Kenichi Ohmae juga menulis pemikirannya di dalam dua buku, The Borderless World dan The End of Nation State.

Pandangan dunia yang datar berbeda dengan pandangan bumi datar (the flat earth). Bumi datar mengartikan secara harafiah bahwa bumi itu tidak bulat. Bumi itu datar, persis kayak piringan terbang. Pandangan bumi datar ini mungkin sisi lain dari operasi perburuan harta kerajaan nusantara.

Dunia yang datar ialah dunia yang secara ekonomi, politik, budaya dan ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat. Dunia yang usang itu bentuknya persis piramida, mengkerucut ke atas puncak. Sebuah dunia yang dikendalikan segelintir orang, atau segelintir negara.

Segelintir orang atau segelintir negara yang berada di pucuk piramida itu yang mengatur nasib lebih banyak didominasi orang atau lebih banyak didominasi negara yang berada di kaki piramida. Segelintir orang atau segelintir negara yang menikmati lebih banyak didominasi kekayaan dunia. Sebaliknya mayorita orang dan lebih banyak didominasi negara mendapatkan tetesan dari kekayaan itu.

Dunia yang datar itu juga bermakna tak ada lagi batas, tidak ada border (borderless). Batas negara akan runtuh, batas budaya juga tenggelam. Demikian juga batas stratifikasi sosial berupa kelas sosial diprediksi akan melebur.

Revolusi teknologi warta ialah lokomotif yang meng-nyeret dunia yang gres dikala ini. Dunia digital itu persis “air bah” Nabi Nuh yang melebur batas atau tembok yang menjadi ciri khas dunia yang usang tersebut.

Dunia yang datar itu juga mengandung pengertian tidak ada lagi diam-diam yang sanggup diumpetin di ruang-ruang gelap. Di dalam dunia yang lama, segala bentuk persekutuan atau persekongkolan, sanggup tumbuh subur bagaikan jamur di ekspresi dominan hujan.

Demikian juga jejak dari kejahatan ekonomi dan keuangan yang merugikan rakyat banyak hanya menjadi konsumsi segelintir pemegang otoritas. Mereka pemegang otoritas, baik otoritas aturan maupun otoritas keuangan yang sanggup mengakses dan mengaburkan jejak itu.

Berbeda dengan dunia yang baru, tak ada yang sanggup diumpetin. Opini dan argumentasi niscaya akan kalah kalau dihadapkan dengan jejak. Demikian juga, dengan kemajuan teknologi yang tersebar, jejak yang sengaja digelapkan itu sanggup diakses oleh siapa saja dan dibocorkan ke publik.

Bocornya Dokumen Rahasia

Terkuaknya dugaan kebohongan Ratna Sarumpaet hanya masalah kecil yang menjelaskan fenomena dunia yang datar dan telanjang itu. Menyusul kemudian dugaan skandal “Buku Merah” KPK yang menghebohkan lantaran terdapat nama sejumlah petinggi penegak aturan di sana. Kedua masalah ini memiliki kesamaan. Keduanya terbuka melalui jejak rekaman CCTV.

Jauh sebelumnya, sejumlah dokumen diam-diam intelijen diretas dan dibocorkan ke publik. Bahkan, unsur kerahasian, yang menjadi nyawa dari bisnis perbankan juga dibobol dan dibuka untuk diketahui publik. Sepertinya gerakan membocorkan dokumen rahasia,  yang terjadi di banyak sekali daerah di dunia, termasuk Indonesia Leak, ialah sebuah operasi yang dilakukan secara internasional.

Adalah Julian Assange dengan Wikileak dan Edward Snowden yang menjadi martir yang mempelopori meruntuhkan dunia usang yang berbentuk piramida menjadi datar, terhampar dan telanjang. Kedua orang perjaka ini berhasil membocorkan sejumlah dokumen terkait konspirasi intelijen global.

Dimulai dari Julian Assange, seorang programmer komputer, jurnalis, dan penulis. Pada tahun 2010 membocorkan file yang berisi dokumen-dokumen diam-diam operasi intelijen di banyak sekali negara. Sebanyak 1,7 gigabita dokumen yang dibocorkan oleh Assange.

Menyusul kemudian Edward Snowden, seorang analis National Security Agency (NCA). Pada tahun 2013 membocorkan warta diam-diam seputar program-progam NSA yang sangat diam-diam menyerupai PRISM kepada The Guardian dan The Washington Post. Ditaksir sekitar 200.000 dokumen diam-diam negara AS yang dibocorkan oleh Snowden.

Berikutnya Offshore Leak yang pada tahun 2013 membocorkan dokumen sebanyak 260 gigabita. Data Offshore Leaks didapat dari firma aturan Portcullis TrustNet di Singapura dan Commonwealth Trust Ltd di British Virgin Island (BVI). Diantaranya perihal data nasabah yang membuka rekening di luar negeri, untuk tujuan penghindaran pajak dan penyembunyian harta haram dari korupsi.

Selanjutnya pembocoran dokumen oleh Luxemburg Leaks pada tahun 2014. Sebanyak 4 gigabita dokumen penghindaran pajak yang dilakukan oleh Google dan 350 perusahaan multinasional lainnya. Sebagaimana telah menjadi diam-diam umum, perusahaan menyerupai Google, Apple, Amazon dan Starbucks memiliki anak perjuangan yang ditempatkan di yurisdiksi nirwana pajak. Tujuan utamanya ialah penghindaran beban pajak yang harus dibayar di negara asalnya (Amerika Serikat) maupun di negara dimana penghasilan diperoleh (source country).

Swiss Leaks yang pada tahun 2015 membocorkan dokumen sebanyak 3,3 gigabita. Data tersebut pertama kali dibocorkan oleh Herve Falciani, staf TI dari HSBC yang berada di Swiss. Swissleakberisi daftar 10.000 pengguna jasa bank yang terdaftar di Jenewa - Swiss beserta jumlah uang yang disimpannya tahun 2006-2007. Mereka berasal dari 203 negara dengan total simpanan mencapai 102,5 miliar dolar AS. Diduga uang itu berasal dari penghindaran pajak dan uang korupsi.

Dan yang terbaru ialah Panama Papers tahun 2016 dengan bocoran dokumen sebanyak 2,6 terabita. Hasil pemeriksaan The Panama Papers itu ditayangkan secara serentak pada 4 April 2016 di seluruh dunia, dalam dokumen firma aturan Mossack Fonseca. Dokumen ini diperoleh surat kabar Jerman, Suddeutsche Zeitung. Baru kemudian diteruskan kepada International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Di dalam Panama Papers itu, disebutkan sejumlah nama pengusaha, pejabat dan politisi Indonesia.

Demikianlah rute menuju dunia yang terhampar, datar dan telanjang. Sebetulnya salah satu sebabnya bermula dari krisis global tahun 2008 yang menghantam Amerika dan dunia. Ketika itu diharapkan sumber dana untuk stimulus ekonomi semoga bangun dari krisis. Sumber dana yang sanggup diandalkan itu ialah pajak. Sementara basis pajak sendiri tergerus oleh praktik penghindaran pajak yang memanfaatkan keterbatasan warta keuangan dan perbankan.

Amerika Serikat ialah negara yang menjadi salah satu korban dari praktek penghindaran pajak oleh ratusan perusahaan multi nasional yang berasal dari negara tersebut. Maka dimulailah sebuah operasi mewujudkan kebijakan global untuk membuka dan mengintegrasikan warta keuangan dan perbankan, Automatic Exchange System of Information (AEoI).

Rakyat dan Pemerintah Indonesia sanggup memanfaatkan kebijakan global tersebut untuk menyita kembali uang hasil kejahatan korupsi, menyerupai BLBI dan lainnya. Namun masalahnya, apakah Presiden Joko Widodo berani mengklaim ribuan triliun uang milik rakyat Indonesia yang dirampok dan diumpetin di luar negeri tersebut?

Kita nantikan keberanian Joko Widodo melawan para cukong yang diduga telah membiayainya hinga terpilih jadi Gubernur DKI dan Presiden RI.

Penulis:Haris Rusly Moti


Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Bung Karno, Misteri Kacamata Tembus Pandang Dan Bocornya Dokumen Rahasia