Dwitunggal Vs Dwitanggal


Oleh Dhimam Abror Djuraid
Mantan Ketua PWI Jatim

Pasangan Prabowo-Sandi menyerupai marriage made in heaven, perjodohan di surga, dan Jokowi-Ma'ruf menyerupai forced marriage, perjodohan paksa.

Pasangan Prabowo-Sandi yaitu Dwitunggal baru, dan Jokowi-Ma'ruf akan menjadi pasangan Dwitanggal.

Tiap zaman ada tokohnya, dan tiap tokoh ada zamannya. Begitulah gambaran Sandiaga Uno. Ia muncul mirip wabah yang menjalar dengan cepat dan menjadi simbol politisi masa baru, masa digital dan milenial.

Sandiaga Uno yaitu politisi yang mendekonstruksi gambaran politisi yang elitis, kaku, dan jauh. Sandi yaitu antitesa. Ia populis, lentur, dan dekat. Sandi juga mendekonstruksi politisi yang sarat dengan pencitraan dengan memanipulasi media. Sandi riil, nyata, dan terjangkau.

Cobalah lihat bagaimana rata-rata politisi kita yang kini berada pada posisi-posisi strategis. Mereka umumnya tiba dari kalangan kelas menengah, atau kelas bawah ekonomi, yang menikmati mobilitas sosial sebab pendidikan. Sebagian mereka menjadi pelopor kemudian bergabung dalam partai politik, sebelum mendapat kesempatan untuk menduduki posisi elite.

Sebagian lainnya memiliki kualitas dasar yang agak pas-pasan. Dan, sebab nasib baik, kemudian masuk dalam pusaran politik yang mendamparkan mereka ke posisi elite. Mereka berpolitik dengan idealisme yang rapuh. Sebagian bahkan diledek sebagai politisi mental miskin. 

Sandi unik. Datang dari keluarga bangsawan dan elite, kemudian mendapat pendidikan di luar negeri di universitas yang prestisius. Ia mewakili genre gres politisi nasional yang lahir sebagai bibit unggul. 

Sandi bisa menjadi prototipe gres politisi nasional di masa digital. Ia mendapat pendidikan mondial berwawasan kosmopolitan dan mengglobal. Ia kemudian mengarungi tantangan bisnis masa digital global 4.0 yang tidak lagi mengenal batas-batas geografis dimana bisnis sudah menembus batas-batas nasional. 

Sandi bermain dunia tanpa batas, Borderless World, sebagaimana digambarkan Kenichi Ohmae (199), ketika perdagangan global menyebabkan batas-batas geografis negara menjadi kabur dan menghilang. Nasionalisme di masa global dan digital membutuhkan definisi baru. 

Seperti jargon globalisasi, "Think globally act locally", berpikir secara global tetapi bertindak lokal, nasionalisme masa digital membutuhkan tafsir gres semoga tidak ketinggalan zaman. Orang harus membuka pikirannya terhadap tantangan global, tetapi pada dikala bersamaan ia harus tetap berpijak di bumi lokal jikalau tidak mau kehilangan identitas dan pijakan.

Memang ada paradoks globalisasi ketika dunia semakin menyatu parokialisme semakin menguat. Bahkan belakangan ini muncul gerakan proteksionisme gres ala Trump yang parokialis dan dianggap ultra-nasionalis. Tapi globalisasi yaitu sebuah keniscayaan zaman yang mustahil diputar mundur kembali.

Welcome to the jungle. Selamat tiba di hutan belantara.
Sandiaga Uno fasih bermain di dunia gres yang mirip hutan belantara lebat itu. Ia memahami kompleksitas tatanan politik, ekonomi, sosial, dan budaya dunia gres ini, dan asyik bermain di dalamnya.

Persaingan global dalam tatadunia yang gres sudah berubah. Huntington (2001) meyakini bahwa benturan internasional akan terjadi antar peradaban-peradaban besar dunia. Perang dagang Amerika melawan Cina yaitu perang peradaban. Berbagai benturan yang terjadi di Timur Tengah yaitu benturan peradaban Barat dengan Islam Timur.
Banyak yang tidak oke dengan pendapat Huntington. Tapi, banyak yang mendukung gagasannya. Perang dagang yaitu ekstensi dari perang peradaban, perebutan supremasi gres dunia yang masih menyisakan vakum pasca-ambruknya komunisme Uni Soviet, 1990.

Inilah prasyarat yang harus dimiliki politisi global masa digital kini ini. Ia harus memahami tatabaru ekonomi global berbasis digital. Ketika dunia mengalami disruption (Kasali, 2018) dan tatanan lama dibongkar total dan memunculkan great shifting. Ekonomi lama berbasis produksi dengan prinsip kepemilikan modal, alat produksi, dan distribusi sudah menjadi obsolete alias usang, diganti oleh ekonomi gres berbasis platform dan menyebarkan (sharing). Platform menjadi market places yang mempertemukan banyak sekali kepentingan. Profit tidak didapat dari margin harga produksi dari harga jual, tapi dari sharing di antara partisipan di market places.

Lanskap politik juga berubah seiring dengan munculnya masa digital. Pola-pola komunikasi politik lama berubah seiring dengan revolusi digital. Pola-pola pencitraan obral komitmen sudah tidak laris lagi, sebab kekuatan checks and balances tidak hanya dimainkan oleh lembaga-lembaga politik, tapi sebagian besar sudah diambil alih oleh masyarakat digital yang bisa setiap dikala mengungkap jejak digital para politisi pembohong.

Pasca rezim Orde Baru yang otoritarian, muncullah Jokowi yang menjadi antitesa politik yang serba kuasa, kaku, dan pongah. Jokowi yaitu kita, rakyat jelata yang sederhana, polos, lugu, tidak neka-neka.

Kehadiran Jokowi mendekonstruksi gambaran politik Orde Baru yang otoritarian dan memunculkan gambaran gres yang sederhana dan merakyat. Tapi, masa Jokowi bisa jadi menjadi masa yang singkat. Pencitraan yang berlebihan tanpa dibarengi kemampuan personal yang cukup dan kualitas personal yang mumpuni, ditambah dengan kualitas kepemimpinan yang rendah, membuat Jokowi melaksanakan self destruction, menghancurkan sendiri, masa yang dibangunnya.

Ia melejit dengan cepat dengan memanfaatkan kekuatan media. Tapi, ia juga jatuh dengan cepat sebab kekuatan media juga. Live by the sword and die by the sword; kau hidup sebab pedang dan kau mati sebab pedang.

Era gres muncul, dan Sandi menjadi the rising star. Ia masih punya masa depan yang panjang. Panggung besar menghampar di depannya. Persekutuannya dengan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden 2019 melahirkan dimensi baru. 

Dua personaliti ini mirip opposite attrack, dua langsung yang berbeda tetapi saling mengisi dan menguatkan. Herbert Feith (1989) memperkenalkan istilah solidarity maker dan administratur untuk menggambarkan pasangan Soekarno-Hatta. Soekarno dengan kharisma dan kemampuan orasinya yang menyihir yaitu seorang solidarity maker, pembuat solidaritas, yang bisa membuat orang-orang berbaris solid di belakangnya.

Hatta memiliki kepribadian yang berbeda dengan Soekarno. Ia, ekonom yang tekun, detail, dan cermat, memperkuat kelemahan Soekarno yang menjadi pemikir dan konseptor. Dua orang ini dicatat sejarah sebagai Dwitunggal, dua tetapi satu.

Prabowo, militer yang teguh, tegas, dan bisa menjadi pencipta solidaritas. Prabowo visioner dengan sudut pandang yang luas. Ia melihat dari angle yang tinggi sehingga bisa melihat kasus secara lebih komprehensif. Ia melihat sesuatu dengan helicopter's view, dari posisi atas yang luas. Prabowo punya kharisma untuk membuat solidaritas di antara masyarakat.

Sandi yaitu administratur yang lebih telaten terhadap detail. Keterampilan manajemennya membuat dirinya fokus pada getting things done. Sebagai pengusaha global ia paham bagaimana ekonomi bekerja. Sebagai manajer global Sandi paham bagaimana ekonomi mikro beroperasi.

Sungguh bukan kebetulan yang dibuat-buat ketika Prabowo mengidentikkan dirinya dengan Bung Karno, dan Sandi secara terbuka mengagumi Hatta terutama konsep ekomomi kerakyatannya. Pasangan ini bisa menjadi Dwitunggal baru.

Sekadar perbandingan kecil, jikalau Prabowo-Sandi menyerupai perkawinan di Surga, a marriage made in heaven, maka pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amien menyerupai kawin paksa, forced marriage, sebab ketiadaan kesamaan dan tidak ada potensi untuk saling mengisi.

Dalam hal apapun Ma'ruf sulit dijadikan sebagai wakil ideal bagi Jokowi. Pada fase-fase awal ini sudah terlihat bagaimana Ma'ruf sering ditinggal oleh Joko Widodo. Hal itu terlihat dalam debat presiden jelang Pilpres April 2019. Kalau pasangan ini bisa menang maka banyak yang memprediksi Ma'ruf akan ditinggal oleh Joko Widodo di tengah jalan.

Di sisi lain, Sandi yaitu wakil presiden cita-cita bagi Prabowo. Dia tepat sebagai wakil dan kawan kerja. Pasangan Prabowo-Sandi yaitu pasangan Dwitunggal. Sementara Jokowi-Ma'ruf akan menjadi pasangan Dwitanggal atau Dwitinggal. (*)

Tags : berita islam terpercaya, portal bersama news, berita 2019
Disclaimer: Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami.Disini
Dwitunggal Vs Dwitanggal